in Book, Life

Untungnya Dia, Malangnya Saya

Sekarang ini lagi suka baca cerita-ceritanya Ajahn Brahm. Yeah right, you’re now religious! :p Haha, can’t say yes or no, but kinda like the short stories. Meaningful.

Kali ini, Ajahn Brahm cerita, waktu dia masih jadi biksu muda, dia suka iri karena biksu senior selalu mendapat makanan yang enak, tidak perlu kerja berat, dan duduk di kursi yang empuk. Sementara, biksu muda tersiksa dengan makanan yang tidak mengundang selera, kerja berat, dan duduk di lantai yang keras. Untungnya mereka, malangnya aku, kata Brahm.

Seiring berlalunya waktu, dia kemudian menjadi biksu senior, ternyata biksu senior begitu tidak punya waktu, karena harus mendengarkan keluhan-keluhan umat, harus melakukan pekerjaan administrasi dan tanggung jawabnya juga tinggi sekali. Beda dengan biksu muda yang tidak punya tanggung jawab dan punya banyak waktu. Kata Ajahn Brahm: untungnya mereka, malangnya aku.

Kemudian ada beberapa kalimat penutup tambahan, tapi point pentingnya adalah we will never be happy kalau cuma mikirin enaknya posisi atau kehidupan orang lain. Karena sesungguhnya yang berbeda hanyalah bentuk dari kebahagiaan atau bentuk dari derita yang ada di tiap peran.

Untungnya aku, malangnya mereka. That’s it.