Luis Enrique dan Di Matteo

Prestasi Roma 2011/2012 bisa dikatakan jelek. Pemain baru yang masuk di awal musim seperti membawa angin segar, katakanlah Stek, Osvaldo, Pjanic, Kjaer, Bojan, hingga new-found goal getter Booorrrrini. Luis Enrique di”duga” akan membawa sukses Barcelona ke Roma. Tetapi, Roma ternyata tidak juga bisa sesukses zaman Capello.

Terakhir, Roma kalah manis dari Juventus 0-4. Bah. I blame Luis Enrique. LE.

Ada yang lantas menulis “Why should we blame LE?”, “Changing LE will not solve the problem!”. Well, you should tell Chelsky! Chelsea mengganti AVB dengan Roberto di Matteo dan dalam 15 pertandingan, di Matteo mencatat 10 kemenangan, 4 seri, 1 kalah. Chelsea lolos ke Final Champions League.

Dalam situasi seperti Roma, mengganti pelatih adalah pilihan paling tepat. He should be responsible for all this “mess”. Roma adalah tim dengan defense terburuk dalam 12 besar Liga Italia. He failed. He had picked his new recruits, he had the authority with the lineup and strategy. Those are the areas he failed most. I don’t get it when they couldn’t sign good defender. Heinze and Burdisso? Not type of players who will need to defense against Matri, Ibrahimovic!

Apakah mengganti pelatih akan mengubah nasib? Sangat mungkin, jika pemilihan pelatihnya tepat. Orang paling tepat saat ini adalah Fabio Capello (well… he prefer staying in London though), kemudian I would be thrilled with Prandelli (unlikely!), even I like Spalletti more!

Experimental Setup

image

Playing around with this setup. Surely taking my computing experience to a new level, plus dragging down productivity! How can one work with Keynote on one screen and social media on the other.

And, for the you-know-what, the Roma poster is the one I bought 12 years ago!

The Tourist

Policeman: You wish to report a murder.
Frank Taylor: Attempted murder.
Policeman: That’s not so serious.
Frank Taylor: Not when you downgrade it from murder. But when you upgrade it from room service, it’s quite serious.

Cousin brought up this movie in his Facebook Timeline. I like The Tourist, probably because of Jolie and Depp, and probably because of the story. I like how the writer, Florian Henckel von Donnersmarck, who is also the director of the movie tell the story. Quite a light movie which you enjoy from your sofa with some pop-corn. I somehow recall that I watched the movie with Chef Tony’s Popcorn.

I am a fans of this genre, bits of mystery, bits of action, bits of ass kicking, bits of comedy. And, I love the small chats! Always. In fact, you can always find something interesting in the small chats. I remember quoting The Bank Job:

Kevin Swain: We’re not bank robbers.
Terry Leather: Maybe that’s why we could get away with it.
Dave Shilling: It’s a bit daunting, isn’t it?
Terry Leather: You know what scares me more? Living and dying with nothing to show for it. You know how old Mozart was when he composed his first minuet?
Dave Shilling: No.
Terry Leather: Five. Five! A fucking minuet!
Kevin Swain: And how would you know that fact, Terry?
Terry Leather: Because it’s tattooed on that stripper’s arse, Kevin. What the fuck’s it matter how I know? It’s a fact and you’re missing the point, Kev. What I’m trying to say is, we stop fucking about and stop picking the shit from under our fingernails.

Parents Love

To understand your parents’ love you must raise children yourself. -Chinese Proverb

Yeah, parents told me this. I think all parents must have told their kids the same thing. To understand this statement itself, you must be a parent first.

I never took these words seriously, I didn’t get it. Setelah Aiden mengisi hidup, barulah saya paham. We do not love our parents as much as we love our kids. Or at least, we have not. We get angry easily to our parents, we think negatively (sometimes), we ignore them the other time.

To be at the other end, saya jadi lebih paham, it is not a kid’s fault. Ini memang normal, anak belum pernah menjadi orang tua. Orang tua sudah pernah menjadi seorang anak. Jadi, memang benar orang tua harus lebih berbesar hati.

Walk the Line (Again)

Lagi dengerin I Walk The Line-nya Johnny Cash jadi ingat film biografi Johnny Cash – Walk the Line. Dan ternyata, saya sudah pernah menuliskan tentang film ini 5 tahun lalu! Ini dia. Nah, lagu-lagunya Johnny Cash memang luar biasa. Yang bikin lebih luar biasa lagi adalah hampir semua lagu-lagunya punya arti sesuai dengan apa yang dialami Johnny. He’s a legend!

Favorit saya tentu saja I Walk the Line dan Ring of Fire! :) Try them!

Kembali ke posting 5 tahun lalu, ternyata saya menggunakan kutipan percakapan Jerry Lee dan June Carter:

Jerry Lee Lewis : We’re all going to hell for the songs we sing!
June Carter : And what about me, Jerry Lee; am I going to hell too?
Jerry Lee Lewis : No, June, you’re beautiful.

Ini lirik I Walk the Line yang powerful, tentang June yang sangat “khawatir” dengan Johnny. Lagu ini diciptakan oleh June dan dinyanyikan Johnny.

I keep a close watch on this heart of mine
I keep my eyes wide open all the time
I keep the ends out for the tie that binds
Because you’re mine
I walk the line

I find it very, very easy to be true
I find myself alone when each day is through
Yes, I’ll admit I’m a fool for you
Because you’re mine
I walk the line

As sure as night is dark and day is light
I keep you on my mind both day and night
And happiness I’ve known proves that it’s right
Because you’re mine
I walk the line

You’ve got a way to keep me on your side
You give me cause for love that I can’t hide
For you I know I’d even try to turn the tide
Because you’re mine
I walk the line

Mencari Alasan

Berolahraga secara teratur berpengaruh positif pada daya tahan tubuh. Makanan sehat dengan sedikit gorengan, dan lebih banyak sayuran hijau akan membuat tubuh makin sehat dan segar. Istirahat yang cukup sangat bermanfaat bagi kita. Apakah Anda sudah tahu tentang ini semua? Saya yakin sudah. Dokter, keluarga, dan teman pernah atau sering mengingatkan hal ini, tetapi, berapa banyak dari kita yang benar-benar menjalankannya? Padahal, Ini menyangkut hidup kita yang satu-satunya. Dalam jumlah sampel yang lebih luas, ternyata banyak orang yang juga mengetahuinya tetapi tidak menjalankannya. Seperti kata Stephen Covey, “common sense is not always common pratice”.

Lantas, bagaimana dalam konteks organisasi? Dari rekan, buku, dan berbagai sumber kita belajar kisah sukses perusahaan yang berhasil dan praktik-praktik yang baik. Tetapi, apakah kita benar-benar menjalankannya? Akan selalu ada alasan untuk tidak memulai melakukan sesuatu secara benar. Saya pernah mendengar kalimat “Saat kita benar-benar mencari peluang, maka kita akan melihatnya dan menemukannya dalam banyak hal. Hal yang sama juga berlaku saat kita benar-benar mencari hambatan/alasan”, ini sangat relevan dengan situasi di banyak organisasi.

Seorang praktisi Lean Healthcare, Mark Graban, menceritakan bagaimana awalnya General Motor merasa bahwa Lean (baca: Toyota Production System) tidak cocok diterapkan di General Motor karena perbedaan produk. “We’re different, machining engine blocks is different than snapping together cars”. Saat ini mereka salah satu yang paling sukses mengimplementasikan Lean.

Bahkan, “We’re not Japanese” adalah kalimat-kalimat umum yang dipakai pabrik-pabrik di Amerika sampai Toyota membuktikan Toyota Production System sukses berjalan di dua pabrik Toyota yaitu NUMMI di California dan TMMK di Georgetown Kentucky.

Saya tidak sedang menyarankan anda untuk menjalankan Lean Manufacturing, Six Sigma, Total Productive Maintenance, atau Process Improvement. Saya mengajak untuk berpikir sejenak, apakah selama ini kita mencoba mencari peluang ataukah mencari hambatan/alasan, apapun itu kita akan menemukannya. Anda yang paling tahu mana yang terbaik untuk Anda dan perusahaan. Take action. Quick. Your competitors just took it.

Untungnya Dia, Malangnya Saya

Sekarang ini lagi suka baca cerita-ceritanya Ajahn Brahm. Yeah right, you’re now religious! :p Haha, can’t say yes or no, but kinda like the short stories. Meaningful.

Kali ini, Ajahn Brahm cerita, waktu dia masih jadi biksu muda, dia suka iri karena biksu senior selalu mendapat makanan yang enak, tidak perlu kerja berat, dan duduk di kursi yang empuk. Sementara, biksu muda tersiksa dengan makanan yang tidak mengundang selera, kerja berat, dan duduk di lantai yang keras. Untungnya mereka, malangnya aku, kata Brahm.

Seiring berlalunya waktu, dia kemudian menjadi biksu senior, ternyata biksu senior begitu tidak punya waktu, karena harus mendengarkan keluhan-keluhan umat, harus melakukan pekerjaan administrasi dan tanggung jawabnya juga tinggi sekali. Beda dengan biksu muda yang tidak punya tanggung jawab dan punya banyak waktu. Kata Ajahn Brahm: untungnya mereka, malangnya aku.

Kemudian ada beberapa kalimat penutup tambahan, tapi point pentingnya adalah we will never be happy kalau cuma mikirin enaknya posisi atau kehidupan orang lain. Karena sesungguhnya yang berbeda hanyalah bentuk dari kebahagiaan atau bentuk dari derita yang ada di tiap peran.

Untungnya aku, malangnya mereka. That’s it.

Tentang Hampir

Juni memang bulan yang selalu jadi perhatian saya. Ini adalah titik dimana kita sudah menghabiskan 50% dari tahun tersebut. Biasanya setiap Juni, saya “mulai” melihat progress dari perusahaan, karena ini titik paling gampang, di bisnis yang tidak terkait season, seharusnya bisnis kita sudah melangkah sejauh 50% dari target.

Nah, untuk perusahaan ini, kali ini nilai tersebut memang belum tercapai, tetapi HAMPIR. Ya ya, hampir is never good enough. Tapi HAMPIR juga pertanda we are setting a good and well forecasted target :) bisa kan?